![]() |
| Maulid Nabi Pon. Pes Roudlotus Salafiyah |
Yang merayakan maulid pertama kali adalah penguasa Kota Irbil, Mudzoffar Abu Said Kaukabari bin Zainuddin, seorang raja terpuji dan pembesar yang dermawan. Ibnu Katsir pernah berkomentar tentangnya: "Beliau melaksanakan maulid pada Rabiul Awal dan memperingatinya dengan meriah. Ia sosok yang santun, pemberani, cerdik, dan adil. Semoga Allah merahmati beliau. (Hawi lil Fatawi, halaman 292)
Tanya: Apa pandangan ulama mengenai maulid Nabi?
Jawab: Imam Jalaluddin As-Suyuthi ketika ditanya perihal maulid beliau menjawab secara eksplisit dengan sebuah karya kitab yang diberi nama Husnul Maqshad fi Amalil Maulid. Menurut beliau, "Hukum asal maulid Nabi yang mana di dalamnya terdapat orang yang membaca ayat suci al-Qur’an dan hadits Nabi tentang pengarai Rasulullah, begitu juga ayat yang ada hubungan dengan kisah kenabiannya. Dilanjutkan dengan acara ramah tamah, lalu bubar tidak lebih dari itu. Maka, itu adalah bid'ah hasanah dan pelakunya mendapat pahala.” (Husnul Maqshad, halaman 251-252).
Imam Suyuti juga berkata bahwa suatu ketika Imam Ibnu Hajar ditanya tentang maulid, beliau menjawab, “Asal muasal amalan maulid (seperti yang ada saat ini) adalah bid'ah, dan tidak pernah dinukil dari para salafus shalih, bersamaan dengan hal tersebut terdapat amalan yang baik di dalamnya dan menjauhi amalan yang buruk. Maka barangsiapa yang berusaha mengamalkan (yang baik di dalamnya) dan menjauhi sebaliknya maka amalan ini hukumnya bid'ah hasanah, dan tidak begitu jika sebaliknya. (Hawi lil Fatawi, halaman 282). Dari dua komentar di atas jelas bahwa merayakan maulid itu boleh selama tidak ada kemungkaran di dalamnya.
Ibnu Taimiah berpendapat, memulyakan hari kelahiran dan menjadikannya sebagai ritual musiman telah dikerjakan oleh sebagian orang. dan menjadikannya mendapat pahala yang sangat agung karena bagusnya tujuan dan memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam (Sirah Halabiah Juz I, halaman 84-85).
Sayyid Zaini Dahlan mengatakan, merasa senang pada hari kelahiran Nabi termasuk sebagian cara penghormatan kepada beliau (Addurarus Saniyah, halaman 190).
وَقَالَ
سُلْطَانُ الْعَارِفِيْنِ الْإِمَامُ جَلَالُ الدِّيْنِ اَلسُّيُوْطِيُّ قَدَّسَ
اللهُ سِرَّهُ وَنَوَّرَ ضَرِيْحَهُ، فِيْ كِتَابِهِ اَلْمُسَمَّى بِالوَسَائِلِ
فِيْ شَرْحِ الشَّمَائِلِ:
Sulthan ‘Arifin Imam Jalaluddin
As-Suyuthi –qaddasallaahu sirrahuu wa nawwara dharihaahuu- dalam kitab beliau
yang diber Al- nama “Al Wasaa`il Fii Syarhi Asy-Syamaa`il” berkata
مَا
مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَسْجِدٍ أَوْ مَحَلَّةٍ قُرِئَ فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَفَّتِ الْمَلاَئِكَةُ ذَلِكَ الْبَيْتَ أَوِ الْمَسِجْدَ
أَوِ الْمَحَلَّةَ، وَصَلَّتِ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى أَهْلِ ذَلِكَ الْمَكَانِ،
وَعَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ، وَأَمَّا
الْمُطَوَّقُوْنَ بِالنُّوْرِ يَعْنِيْ جِبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ
وَعِزْرَائِيْلَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ فَإِنَّهُمْ يُصَلُّوْنَ عَلَى مَنْ كَانَ
سَبَبًا لِقِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Tiada dari suatu rumah atau mesjid
atau perkemahan yang dibacakan didalamnya Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam kecuali malaikat mengelilingi rumah, mesjid dan kemah tersebut, dan
malaikat meminta ampunan dosa terhadap penghuni tempat tersebut, dan Allah
meliputi mereka dengan rahmat dan keridhaan(-Nya). Dan adapun malaikat yang
dikelilingi dengan cahaya yakni Jibril, Mikail, Israfil dan ‘Izrail
-‘alaihimussalam- maka mereka meminta ampunan dosa terhadap orang-orang yang
menjadi penyebab bagi pembacaan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam وَقَالَ أَيْضًا:
Dan Beliau juga berkata
مَا
مِنْ مُسِلِمٍ قَرَأَ فِي بَيْتِهِ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِلَّا رَفَعَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْقَحْطَ وَالْوَبَاءَ
وَالْحَرْقَ وَالْغَرْقَ وَاْلآفَاتِ وَالْبَلِيَّاتِ وَالْبُغْضَ وَالْحَسَدَ
وَعَيْنَ السُّوْءِ وَاللُّصُوْصَ عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْبَيْتِ، فَإِذَا مَاتَ
هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ جَوَابَ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ، وَيَكُوْنُ فَي مَقْعَدِ
صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُقْتَدِرٍ
Tiada dari seorang Islam yang
membaca Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dirumahnya kecuali Allah
Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat kemarau, wabah, kebakaran, karam, penyakit,
bala, murka, dengki, mata yang jahat dan pencuri dari ahli rumah tersebut. Jika
orang tersebut meninggal dunia niscaya Allah memudahkan baginya menjawab
pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, dan adalah tempat duduknya pada tempat
yang benar disisi Tuhan yang maha memiliki lagi kuasa
Sumber : Kitab Anni’matul Kubra
‘alal ‘aalam fii Maulidi Sayyidi Waladi Adam halaman 7
Link download Kitab Anni’matul Kubra
‘alal ‘aalam fii Maulidi Sayyidi Waladi Adam


Tidak ada komentar:
Posting Komentar